Gabungan dari itu semua menimbulkan anomali muka air laut yang menyebabkan banjir Rob,� kata Peneliti Kelautan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Wahyu Pandoe pada siaran Iptek Voice di Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Jakarta, Selasa (15/1).
Dalam siaran Iptek Voice dengan topik Fenomena Banjir Air Laut Pasang (Rob) di Teluk Jakarta dan Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia, Wahyu menjelaskan, kenaikan muka air laut akibat pasang surut merupakan fenomena alam biasa dan bisa diprediksi, akibat pergerakan matahari, bumi, bulan dan benda-benda langit lainnya.
Pasang tinggi dan surut terendah mempunyai periode panjang dan pendek. Periode panjang 18,6 tahun, dan periode pendek misalnya 12 jam, 24 hari, 6 bulan, 1 tahun.
Semua periode tersebut juga akibat pergerakan benda-benda di langit, dan dalam memprediksi tingginya gelombang pasang harus memperhitungkan periode-periode tersebut, apabila periode 6 bulan berintegrasi dengan periode harian, maka tinggi gelombang akan bertambah, tapi tingginya tidak signifikan kurang dari 10 cm.
Disebutkan, di Jakarta pada bulan Mei yang lalu pernah terjadi gelombang pasang akibat adanya gaya lain karena swell yang digerakan dari Afrika, sedangkan bulan November Rob terjadi selain karena gelombang maksimum juga ditambah gaya lain berupa badai di Selat Karimata yang mendorong air laut dari utara ke selatan tegak lurus ke Jakarta.
Pada tahun 1924, bangunan yang ada di Teluk Jakarta terletak di atas air pasang maksimum, 83 tahun kemudian yaitu tahun 2007, akibat global warming (pemanasan global), muka air laut naik 40-50 cm, hal tersebut cukup signifikan, ditambah faktor-faktor lain yang menyebabkan banjir Rob terjadi.
Batas aman ketinggian bangunan terletak pada air pasang tinggi ditambah beberapa centimeter untuk faktor keamanan dengan memperhitungkan tinggi kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah beberapa tahun ke depan.
Secara teoritis sekarang Muara Baru dan daerah-daerah rendah di Jakarta sudah dibawah air pasang tertinggi. �Jadi bilamana air pasang tinggi umumnya akan terjadi banjir, dan air laut masuk ke darat,� katanya.
Oleh karena itu, solusinya adalah harus meninggikan daerah pemukiman dengan memperhatikan kenaikan muka air laut tertinggi dan memprediksi kenaikkannya beberapa tahun ke depan dan juga penurunan muka tanah. �Jadi perlu penataan ulang kawasan pemukiman pantai Jakarta,� katanya (T. Gs/ toeb/c )