|
JAKARTA, Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia (IKPII) kembali mengadakan pameran pendidikan yang menampilkan sebanyak 90 institusi dari 14 negara, diantaranya adalah Amerika Serikat, China, Australia, Inggris, dan Singapura.
"Kami berbeda dari pameran pendidikan yang biasa digelar karena kami menampilkan lebih banyak institusi dengan lebih banyak negara peserta. Istilahnya one stop shopping," kata ketua IKPII Hariyanto di Jakarta, Sabtu (2/8).
Hariyanto menambahkan ada kecenderungan peningkatan peminat yang terlihat dari banyaknya orang yang datang ke pameran setiap saatnya. Pada pameran ke tujuh ini, IKPII menargetkan jumlah kunjungan orang sebanyak 8.000 orang.
"Kami memang memasang target lebih rendah dari pameran pada Januari lalu. Januari lalu, jumlah pengunjung mencapai 12.000 orang dengan tujuan sekolah terbesar adalah Amerika Serikat dan Inggris," lanjutnya.
IKPII merupakan wadah konsultan pendidikan yang terdiri dari agen-agen lembaga pendidikan yang mengurus keperluan seseorang yang hendak belajar ke luar negeri. Menurut Hariyanto, konsultan seperti ini sangat diperlukan bagi mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan yang amat berbeda dari negara asal. Konsultan ini, lanjutnya, selain mengurus keperluan persiapan calon pelajar, mereka juga membantu pelajar selama belajar di luar negeri.
"Belajar di luar negeri selama ini dianggap butuh biaya yang sangat besar. Tapi, berdasar pengalaman yang lalu, tahun pertama, pelajar tersebut memang meminta dari orang tua, tapi selanjutnya pelajar ini bisa menghidupi dirinya sendiri karena mereka bisa kerja sampingan," ujarnya.
Mereka yang bersekolah di luar negeri, klaim Hariyanto, punya keuntungan lebih. Pertama, mereka bisa langsung merasakan pergaulan interasional karena mereka langsung datang dan tinggal di lingkungan tersebut. Keuntungan lainnya adalah pelajaran bahasa Inggris yang menjadi lebih baik dan bisa menjadi modal bagi pergaulan internasional.
"Orang tua punya harapan besar ketika menanamkan investasi pendidikan bagi anak mereka bersekolah di luar negeri. Oleh karena itu, mereka harus membawa keuntungan ketika kembali ke negeri ini. Selain mereka dihargai tinggi saat bekerja, mereka juga bisa mengamalkan ilmu itu di dalam negeri," kata salah satu pembicara Charles Bonar Sirait. (*/OL-03) |